Jalan cerita Film Pelukis hantu

Pelukis Hantu adalah film yang menyenangkan. Begitulah kesan pertama yang tergores selepas menontonnya. Sepintas lalu, tontonan yang mengombinasikan genre horor dan komedi ini memang terlihat seperti sajian seram kelas B yang dibuat untuk mengeruk keuntungan semata tanpa peduli kualitas – jejak rekam genre ini tak cihuy.

Lebih-lebih, MD Pictures memutuskan untuk menerjunkannya secara langsung ke layanan penyedia streaming yang tentu memantik kecurigaan hamba: kenapa? Maklum, pengalaman menonton film Indonesia dalam satu bulan terakhir ini sungguh bikin kepala nyut-nyutan sehingga keragu-raguan pun melejit ke angkasa. Sungguh, saya telah berpasrah kepada Tuhan.

 

Nonton film nya disini :

Link 1 : Nonton lk21 online

Link 2 : Nonton indoxx1 online

 

Akan tetapi, Pelukis Hantu yang menandai untuk pertama kalinya Arie Kriting memulai debut penyutradaraannya, menunjukkan bahwa masihlah ada harapan terhadap produk yang dilempar ke OTT (over the top atau layanan streaming). Mengikuti jejak rekannya sesama komika, Bene Dion, yang tahun lalu menghasilkan Ghost Writer yang mengesankan, Bung Arie mencoba untuk menghadirkan sebuah sajian hiburan yang tak saja membuat penontonnya tergelak-gelak sekaligus terperanjat, tetapi juga mendapatkan sesuatu.

 

Ya, dia turut memasukkan hati ke dalam penceritaan demi menguarkan sisi emosional dari penceritaan serta isu yang kompleks mengenai luka dan trauma. Sebuah langkah yang terhitung berani untuk karya perdana.

Dalam Pelukis Hantu, kita diperkenalkan pada seorang pelukis amatir bernama Tutur (Ge Pamungkas) yang mengalami kesulitan ekonomi lantaran karya-karyanya tak laku terjual.

 

Padahal di waktu bersamaan, dia harus membayar biaya pengobatan ibunya, Ana (Aida Nurmala), yang sedang sakit keras. Saat harapan seperti telah mengabur, Tutur menerima telepon dari teman lamanya, Udin (Abdur Arsyad), yang mengabarinya mengenai lowongan untuk menjadi salah satu pengisi acara dalam sebuah program mistis di televisi. Bukan sembarang pengisi acara, melainkan menempati posisi “pelukis hantu” dimana dia harus melukis memedi dengan mata tertutup. Sebagai seseorang yang memiliki idealisme tinggi – plus dia tak punya bakat melihat makhluk gaib – Tutur sempat dirundung keraguan karena merasa sudah membohongi publik.

 

Tapi berhubung dia tak punya pilihan lain, mengapa tidak dicoba saja dulu? Pada awalnya, protagonis kita ini berpura-pura saja memiliki kemampuan untuk berkomunikasi dengan alam lain sampai kemudian… kemampuan itu benar-benar menghinggapinya (!). Sesosok kuntilanak kerap menampakkan diri di hadapannya setiap kali matanya ditutup. Di satu sisi, penampakan ini jelas membantu kelancaran karirnya. Namun di sisi lain, Tutur mulai mempertanyakan motif si kuntilanak. Dia menduga, ada pesan penting yang sejatinya ingin disampaikan kepadanya.

 

Dibantu oleh seorang blogger spesialis supranatural, Amanda (Michelle Ziudith), dan Udin, Tutur pun berupaya untuk menyibak misteri dibalik kemunculan Mbak Kunti yang ternyata berkaitan dengan tragedi masa lampau.

Menilik latar belakang Arie sebagai seorang komika, tidak mengherankan saat kemudian Pelukis Hantu yang naskahnya juga dia tulis menunjukkan keunggulannya dalam hal ngelaba. Kecakapannya dalam mengatur tempo, menggali materi, sekaligus dukungan para pelakon memungkinkan untuk sebagian besar humor meluncur secara mulus.

 

Saya berulang kali tergelak-gelak mendengar kelakarnya yang menyentil sana-sini – khususnya sektor hiburan dan politik – lalu bermain-main dengan kata, sampai menyelipkan referensi ke budaya populer. Yang menarik, humor yang dikedepankan oleh film ini terintegrasi dengan plot utama alih-alih muncul secara acak entah darimana bak kumpulan-kumpulan sketsa.

 

Memanfaatkan situasi tidak wajar si karakter utama yang kemudian melahirkan celetukan maupun tektokan menggelitik diantara para tokoh. Secara pribadi, saya menyukai keberadaan Abdur Arsyad di sini yang digambarkan sebagai karakter oportunis dengan kemampuan otak yang, well… pas-pasan, serta Hifdzi Khoir sebagai produser serakah yang hanya memikirkan satu hal: rating. Momen-momen terlucu dalam Pelukis Hantu mencuat saat melibatkan dua manusia tersebut.

 

Ekspresi, penyampaian, serta timing-nya diperhitungkan secara jeli. Membuat saya seketika mengurungkan niat untuk menggampar keduanya dengan kanvas lantaran karakternya yang didesain menyebalkan. Pengen banget tak hih, tapi kok ya kocak jadi bisalah sedikit diampuni tingkah polahnya yang naudzubillah itu.

 

Keduanya mencuri lampu sorot dari Ge Pamungkas dan Michelle Ziudith selaku bintang utama yang cenderung fluktuatif. Saat mendapat tugas untuk melucu, Ge sejatinya tidak mengalami kendala. Tapi ketika giliran untuk berlakon serius tiba dimana Tutur harus mengeluarkan segala perasaan terpendamnya, pada saat itulah Ge menunjukkan keterbatasannya.

 

Tak ada emosi yang tersalurkan kepada penonton sehingga mereduksi kesempatan bagi film untuk mengundang air mata. Jujur saja, saya menyayangkannya mengingat babak ketiga Pelukis Hantu yang mengedepankan topik mengenai “berdamai dengan luka” memiliki potensi untuk menggerus hati. Michelle Ziudith yang memiliki jam terbang lebih tinggi  perkara menangani momen dramatik pun tak banyak membantu. Karakternya tak mengalami perkembangan berarti dan seolah-olah hanya diposisikan sebagai love interest semata bagi Tutur.

 

Bahkan, konflik personalnya dengan keluarga perlahan terpinggirkan saat pencarian Tutur semakin dalam. Michelle juga mendapat kesempatan amat minim untuk bersenda gurau, padahal hey, lihatlah betapa lucunya dia di Mekah I’m Coming tempo hari.

 

Saya membayangkan, film mungkin akan menjadi lebih asyik apabila Amanda dengan penampilan bak cenayangnya ini tidak diberi plot percintaan dan lebih sebagai partner in crime yang gila bagi duo Tutur-Udin. Buat rekan tektokannya Udin yang hanya butuh sedikit lagi pemantik agar celetukannya semakin tidak terkontrol sehingga membuat karakter utama kita terus menerus pusing tujuh keliling di kala mencari kebenaran soal Mbak Kunti.

 

Pun begitu, meski Pelukis Hantu agak sedikit bermasalah di sektor drama yang kurang greget dan titik penyelesaiannya pun tidak seemosional yang diharapkan, film masih jago dalam hal bersenang-senang. Membuktikan bahwa Arie adalah sutradara pendatang baru yang karirnya patut diwaspadai. Selama 97 menit, saya mendapati tontonan hiburan pelepas penat yang memang dibutuhkan di masa-masa sulit seperti ini. Elemen horornya sendiri tidak sepekat komedinya, bahkan cukup minim.

 

Tapi Arie mampu menghadirkan satu dua trik menakut-nakuti yang membuat hamba terlonjak dari kursi. Ditambah lagi, riasan wajah untuk Kuntilanak tergolong mengerikan. Jadi bagaimana mungkin diri ini bisa duduk dengan tenang saat sosoknya tiba-tiba nongol seolah ingin menerkam penonton? Sungguh tidak ada akhlak.