Standar kualitas air minumPengolahan air yang sesuai dengan baku mutu air minum berdasarkan Permenkes Nomor 492 Tahun 2010 tentang Persyaratan Kualitas Air Minum penting untuk dipenuhi, agar kualitas air minum yang Anda konsumsi sudah dapat dipastikan dan bebas dari zat berbahaya seperti bakteri atau virus. . Apalagi dengan pandemi saat ini yang masih belum menentu saat ini, tentunya pengolahan air minum yang tepat sangat berpengaruh pada kualitas hidup masyarakat.

Meski begitu, masih banyak masyarakat yang belum mengetahui tentang pengolahan air sesuai standar yang ditetapkan pemerintah. Oleh karena itu, perlu diketahui standar kualitas air minum sesuai Permenkes No. 492/2010. Berikut penjelasan lengkapnya.

Permenkes Nomor 492 Tahun 2010 Sebagai Acuan Standar Kualitas Air Minum

Sesuai dengan uraian singkat di atas, Permenkes Nomor 492/2010 menjelaskan pengolahan air minum dengan baku mutu air minum yang sehat. Secara spesifik, Pasal 2 Perpres ini juga menyebutkan bahwa setiap penyedia air minum untuk permukiman atau fasilitas umum seperti air siap minum di bandar udara wajib menjamin kualitas air minum yang diproduksi. Oleh karena itu, jika Anda adalah pengelola perusahaan air minum, maka pengolahan air sesuai standar yang dijelaskan dalam Permenkes No. 492/2010 wajib diketahui.

Selain itu, peraturan ini juga menjelaskan tentang parameter wajib dan tambahan yang harus dipenuhi perusahaan dalam melakukan pengolahan air minum. Pasal 7 Permenkes Nomor 392/2010 juga menyebutkan bahwa apabila perusahaan air minum tidak dapat memenuhi standar yang diatur dalam peraturan ini, pemerintah daerah dapat memberikan sanksi administratif kepada penyedia air minum yang tidak memenuhi standar pengolahan air Kementerian Kesehatan.

Baca Juga : Penyulingan Air Laut Dengan Metode Desalinasi RO

Pemerintah Telah Mengeluarkan Standar Kualitas Air Minum

Untuk menghindari sanksi yang dijatuhkan oleh pemerintah daerah, Anda harus mengetahui standar pengolahan air minum yang sesuai dengan ketentuan Kementerian Kesehatan. Baku mutu ditentukan oleh beberapa parameter yaitu fisika, kimia dan biologi. Selanjutnya ketiga parameter tersebut dapat dikelompokkan lagi menjadi 2 parameter umum, yaitu:

Parameter Pengolahan Air Minum yang Wajib

Pada umumnya pengolahan air yang dilakukan oleh perusahaan air minum diharuskan untuk memenuhi parameter wajib terlebih dahulu. Parameter tersebut adalah:

  • Parameter yang berhubungan langsung dengan kesehatan adalah parameter mikrobiologi (bakteri e.coli dan coliform) dan bahan kimia anorganik (arsen, fluorida, kromium, kadmium, sianida, selenium dan lain-lain).
  • Parameter yang tidak berhubungan langsung dengan kesehatan yaitu parameter fisik (bau, warna, rasa, suhu, kekeruhan, dan total TDS) serta parameter kimiawi dari pengolahan air (aluminium, besi, klorida, mangan, besi, pH, dll. ).

Parameter Pengolahan Air Minum Tambahan

Parameter tambahan tersebut bertujuan untuk memastikan kualitas pengolahan air yang dihasilkan oleh perusahaan air minum. Parameter ini harus memperhatikan beberapa hal yaitu:

  • Parameter kimiawi, artinya air harus bebas dari kontaminasi bahan kimia organik dan anorganik, deterjen, desinfektan atau produk sampingannya serta pestisida.
  • Parameter radioaktif yaitu hasil pengolahan air maksimum mengandung aktivitas alfa bruto 0,1 Bq per liter air dan aktivitas beta bruto 1 Bq per liter air.

Proses Pengolahan Air

Secara umum proses pengolahan air baku menjadi air siap pakai dibagi menjadi 3 tahapan, antara lain:

1. Tahap Penamapungan Awal (Water Intake)

Satuan ini disebut satuan Sadap Air (Intake). Satuan ini berfungsi sebagai penampung air pada sumber airnya. Selain itu, perangkat ini juga dilengkapi dengan filter Bar Sceen yang dapat digunakan sebagai pre-filter untuk benda-benda yang terendam (misalnya daun, kayu, dan benda lainnya).

2. Tahap Pengolahan Air (Water Treatment)

Pada bagian ini, air di unit penyimpanan awal diproses dalam beberapa langkah:

Sebuah. Langkah Koagulasi (Koagulasi)
Pada tahap ini, air dari reservoir awal diolah dengan menambahkan tawas (aluminium) atau zat seperti garam besi (seperti Iron Salt) atau menggunakan sistem pencampuran cepat (Rapid Mixing).

Air kotor atau keruh biasanya karena mengandung berbagai partikel koloid yang tidak terpengaruh oleh gravitasi, sehingga tidak dapat mengendap dengan sendirinya.

Tujuan tahap ini adalah untuk menghancurkan partikel koloid (zat yang membuat air keruh) sehingga membentuk partikel kecil, tetapi masih sulit untuk mengendap sendiri.

b. Langkah Flokulasi
Proses flokulasi adalah proses menghilangkan kekeruhan air dengan menggumpalkan partikel menjadi partikel yang lebih besar (Particle Floc).

Pada tahap ini partikel kecil di dalam air akan dikoagulasi menjadi partikel yang lebih besar (flok) sehingga dapat mengendap dengan sendirinya pada proses selanjutnya (akibat gaya gravitasi).

Pada proses flokulasi dilakukan dengan pengadukan secara perlahan (Slow Mixing).

c. Langkah Sedimentasi
Pada tahap ini, partikel yang terflokulasi secara alami akan mengendap di dasar reservoir karena massa jenisnya lebih berat daripada massa jenis unsur air. Kemudian, air mengalir ke tahap penyaringan di unit filtrasi.

d. Langkah Filtrasi
Pada tahap ini air disaring melalui media filter yang biasanya terdiri dari material berupa pasir dan kerikil silika. Proses ini bertujuan untuk menghilangkan bahan yang larut dan tidak larut.

Biasanya, setelah proses penyaringan ini, air dialirkan langsung ke unit penyimpanan akhir. Diperlukan proses tambahan untuk mendapatkan kualitas air yang lebih baik, seperti:

– Proses Pertukaran Ion (Pertukaran Ion)
Proses pertukaran ion dirancang untuk menghilangkan polutan anorganik (kontaminan) yang tidak dapat dihilangkan dengan filtrasi atau presipitasi.

Dalam proses ini juga digunakan untuk menghilangkan arsenik, kromium, kelebihan fluorida, nitrat, radium dan uranium.

– Proses Absorpsi (Absorbsi)
Proses ini bertujuan untuk menyerap / menghilangkan polutan organik, senyawa yang menimbulkan rasa, bau dan warna. Biasanya dengan memasukkan bubuk karbon aktif ke dalam air.

– Proses Disinfeksi (Desinfeksi)
Sebelum masuk ke unit penyimpanan akhir (reservoir), air harus terlebih dahulu melalui proses desinfeksi. Artinya, proses penambahan zat kimia klorin bertujuan untuk membunuh bakteri atau mikroorganisme berbahaya di dalam air.

3. Tahap Penampungan Akhir (Reservoir)

Setelah masuk ke tahap ini berarti air sudah siap untuk didistribusikan ke masyarakat.

Artikel lain yang mungkin anda tertarik Cara Mengolah Daging Kelapa Menjadi Minyak yang Mudah